Dari Ranowangko hingga Sineleyan, jejak air yang membentuk lanskap Kota Tomohon
Tahukah Anda bahwa Tomohon memiliki jauh lebih banyak sungai daripada yang mungkin kita bayangkan?
Di tengah pertumbuhan kota, jalan raya, pertokoan, permukiman, sekolah, perkantoran, dan kawasan wisata, ada sebuah jaringan air yang sebenarnya sudah lebih dulu hadir.
Sungai mengalir dari lereng. Anak-anak sungai mencari jalannya. Jembatan dibangun untuk menghubungkan satu sisi dengan sisi lainnya. Danau serta telaga menyimpan air di antara perbukitan dan kaki gunung.
Sebagian masih mudah ditemukan. Sebagian lainnya semakin kecil. Bahkan ada yang mulai menghilang dari lanskap dan ingatan masyarakat.
Karena itu, mengetahui nama-nama sungai, jembatan, dan danau di Tomohon bukan sekadar menambah pengetahuan geografis. Dari sana kita bisa melihat bagaimana sebuah kota tumbuh bersama alam yang mengelilinginya.
Ternyata, sungai di Tomohon cukup banyak
Di kawasan pusat kota Tomohon, terdapat sejumlah nama sungai yang telah teridentifikasi, antara lain Ranowangko, Sineleyan, Giniringan, Ranoneperet, Malangen, Kinupit, Muung, Panumuran, Pinati, Kiaaruyan, Kelang 1, Kelang 2, Lembuyan, Tatou, Meras, dan Ranowatu.
Nama-nama itu mungkin tidak semuanya akrab bagi warga kota hari ini. Sebagian bahkan mungkin lebih dikenal oleh masyarakat yang tinggal di sekitar alirannya daripada oleh warga Tomohon secara keseluruhan.
Di Tomohon Utara, terdapat Sungai Malalayang, dengan anak sungai Pasahapen dan Taingkere. Selain itu terdapat Sungai Sapa-Tinoor dan Sungai Sario.
Sementara di Tomohon Selatan, teridentifikasi Sungai Sapa, Nimanga, Ranoiandang, Ranoesem, serta anak sungai Nimanga.
Namun ada hal yang menarik sekaligus memprihatinkan. Tidak semua sungai tersebut masih memiliki kondisi seperti pada masa lalu. Sebagian alirannya semakin kecil. Sebagian mulai sulit dikenali. Bahkan ada yang disebut mulai menghilang.
Padahal, beberapa sungai masih mempunyai fungsi penting, terutama bagi pertanian. Sungai Muung, Ranowangko, Sapa, Ranowatu, Meras, Ranoesem dan Maanar, misalnya, masih disebut mengairi persawahan. Artinya, bagi sebagian masyarakat, sungai bukan sekadar bagian dari pemandangan. Air sungai masih ikut menentukan kehidupan di sawah.
Kalau ada sungai, tentu ada jembatan
Sungai memisahkan. Jembatan menghubungkan. Sesederhana itu.
Di pusat Tomohon terdapat sejumlah jembatan yang namanya berkaitan dengan sungai atau kawasan yang dilaluinya, antara lain Jembatan Sineleyan, Giniringan, Kolongan, Matani, Panumuran, dan Ranowangko.
Di Tomohon Utara, terdapat:
- Tinoor: Jembatan Sapa dan Mahtalunten
- Kinilow: Jembatan Ranopaso
- Kakaskasen: jembatan yang berkaitan dengan Kelang 1, Kelang 2 dan Lembuyan
Di Tomohon Selatan, terdapat:
- Sarongsong: Jembatan Sapa Sarongsong
- Lahendong: Jembatan Boyong dan Airmerah
- Pinaras: Jembatan Pinaras
- Pangolombian: Jembatan Pangolombian dan Jembatan Tondangow
Di Tomohon Barat, khususnya Taratara, terdapat sejumlah jembatan yang melintasi atau berkaitan dengan aliran sungai, yaitu Meras 1, Meras 2, Ranowatu, Makalesung, Ranowangko, dan Kukusu.
Sementara di Tomohon Timur, terdapat Jembatan Rurukan 1 dan Rurukan 2.
Daftar tersebut mungkin membuat kita menyadari sesuatu yang sederhana: Tomohon sebenarnya memiliki hubungan yang cukup erat dengan sungai. Jembatan-jembatan itu menjadi bukti bahwa aliran air bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga bagian dari ruang hidup masyarakat. Orang melewatinya untuk menuju rumah, sekolah, kebun, sawah, pasar, tempat kerja, atau wilayah lain.
Danau Linow bukan satu-satunya
Kalau mendengar kata “danau” dan “Tomohon”, sebagian besar orang mungkin langsung teringat Danau Linow di Lahendong. Wajar. Danau Linow merupakan salah satu bentang alam paling dikenal di Tomohon. Luasnya diperkirakan sekitar 1 kilometer persegi dan kawasan ini terkenal antara lain karena karakter geologisnya.
Namun tahukah Anda bahwa Tomohon juga memiliki sejumlah danau atau kawasan perairan lain?
Di Pangolombian, misalnya, terdapat Danau Pangolombian dengan luas sekitar 1,5 hektare. Danau ini memiliki sejarah yang berbeda dari Danau Linow karena merupakan danau waduk setelah Rano ne Koropit dibendung.
Kemudian ada Danau Tampusu di lereng Gunung Tampusu, yang juga dikenal sebagai Danau Linow Oki. Kawasan ini terdiri atas dua danau yang dikenal sebagai Linow Atas dan Linow Bawah.
Di lereng Gunung Masarang juga terdapat Danau Masarang, yang dikenal pula dengan sebutan Danau Linow. Nama “Linow” yang muncul pada beberapa lokasi ini menarik untuk ditelusuri lebih jauh karena memperlihatkan bagaimana penamaan suatu bentang alam dapat berkembang dalam ingatan masyarakat.
Ada pula Ranokulo atau Ranokelang
Di Lahendong, pada masa lalu dikenal sebuah lokasi yang disebut Ranokulo atau Ranokelang. Tempat tersebut disebut sebagai danau pada masa lalu. Kini, keberadaan dan bentuk kawasan itu tentu membutuhkan penelusuran lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Tetapi nama itu penting untuk dicatat. Sebab nama tempat sering kali bertahan lebih lama daripada bentuk geografis yang melahirkannya. Sebuah danau dapat mengecil. Sebuah telaga dapat berubah. Sebuah aliran dapat tertutup atau bergeser. Namun namanya masih bisa hidup dalam percakapan masyarakat.
Dari telaga menjadi danau
Ada satu lagi nama yang menarik: Sineleyan di Talete. Dahulu kawasan tersebut lebih dikenal sebagai telaga. Kini masyarakat lebih sering menyebutnya Danau Sineleyan.
Di kawasan ini juga terdapat mata air yang dikelola PDAM Tomohon dan dimanfaatkan sebagai salah satu sumber air bersih bagi masyarakat. Di sinilah sebuah bentang alam bertemu langsung dengan kehidupan perkotaan.
Air yang keluar dari tanah tidak hanya menjadi bagian dari pemandangan. Ia masuk ke sistem penyediaan air. Dari sumber alam, air kemudian menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga. Itulah salah satu alasan mengapa keberadaan sungai, mata air, telaga dan danau tidak seharusnya dilihat semata sebagai urusan geografis. Ada kebutuhan manusia yang bergantung padanya.
Sungai yang mengecil, ingatan yang ikut menyusut
Ada bagian lain dari cerita ini yang tidak terlalu menyenangkan. Sejumlah sungai di Tomohon disebut semakin mengecil. Sebagian mulai hilang.
Ketika aliran air berkurang, perubahan yang terjadi bukan hanya pada sungai itu sendiri. Ekosistem di sekitarnya dapat berubah. Fungsi pengairan dapat berkurang. Sawah yang dahulu bergantung pada aliran tertentu bisa menghadapi kondisi berbeda.
Dan yang sering luput diperhatikan: ingatan manusia tentang sungai juga dapat ikut menghilang.
Generasi yang lebih tua mungkin masih tahu persis di mana sebuah aliran berada. Mereka mungkin tahu nama lokalnya, ke mana airnya mengalir, sawah mana yang mendapat pasokan, atau jembatan mana yang harus dilewati. Tetapi bagi generasi berikutnya, sungai tersebut mungkin hanya tinggal nama. Di sinilah pencatatan menjadi penting.
Tomohon ternyata memiliki “peta air”
Jika seluruh nama sungai, jembatan, dan danau tersebut diletakkan di atas peta Kota Tomohon, mungkin kita akan melihat sebuah kota yang berbeda.
Bukan hanya Tomohon yang dikenal melalui jalan raya dan pusat pertokoannya. Bukan hanya Tomohon sebagai Kota Bunga. Melainkan Tomohon sebagai sebuah lanskap yang sejak awal memiliki hubungan erat dengan air.
Sungai menghubungkan kawasan pertanian. Jembatan menghubungkan manusia. Mata air menyediakan kebutuhan dasar. Danau menyimpan air sekaligus cerita.
Nama-nama seperti Ranowangko, Sineleyan, Muung, Meras, Ranowatu, Sapa, Nimanga, Ranoesem, Malalayang, Pasahapen, Taingkere dan lainnya bukan sekadar nama geografis. Mereka adalah petunjuk untuk membaca bagaimana Tomohon pernah dan masih hidup.
Masih banyak yang perlu dicari
Daftar ini belum tentu lengkap. Bahkan sangat mungkin masih ada sungai, anak sungai, mata air, telaga, danau, maupun jembatan lain yang belum masuk dalam catatan ini. Beberapa nama juga mungkin memiliki variasi penyebutan atau ejaan menurut wilayah dan generasi yang menggunakannya.
Karena itu, daftar ini lebih tepat dipandang sebagai catatan awal, bukan inventaris resmi.
Justru di situlah menariknya. Mungkin masih ada warga Tinoor yang mengetahui nama sebuah anak sungai yang tidak tercatat. Mungkin ada orang Kakaskasen yang masih mengingat aliran yang kini tinggal selokan kecil. Mungkin ada warga Lahendong yang mengetahui persis di mana Ranokulo atau Ranokelang dahulu berada. Atau mungkin ada jembatan lama yang namanya sudah hampir terlupakan.
Sebab sebuah kota tidak hanya mempunyai sejarah dalam buku. Sebagian sejarahnya tersimpan dalam nama sungai, jembatan, mata air, telaga, dan danau. Dan terkadang, untuk mengetahui seperti apa sebuah kota dahulu, kita hanya perlu mengikuti ke mana air pernah mengalir.
Baca versi lengkap artikel ini di blog utama:
Sungai, Jembatan, dan Danau di Tomohon →Catatan: Daftar sungai, jembatan, dan danau dalam tulisan ini merupakan identifikasi awal berdasarkan informasi yang tersedia bagi penulis dan belum dimaksudkan sebagai daftar inventaris resmi yang lengkap. Masih sangat mungkin terdapat nama sungai, anak sungai, mata air, jembatan, telaga, atau danau lain yang belum teridentifikasi. Beberapa nama dan penyebutan juga masih memerlukan verifikasi lapangan serta penelusuran sumber lokal.
