Langsung ke konten

Sekho Mangarek: Lelaki yang Menjaga Ingatan Kampung Halaman

Musisi Sekho Mangarek dari grup Makantar Makaaruyen mengenakan topi jerami dan kaus abu-abu, duduk di atas gerobak kayu tua bernuansa merah di tengah perkebunan kopi.
Edy "Sekho" Mangarek — Di balik perjalanan Makantar, tersimpan kisah tentang musik, kebudayaan Minahasa, dan ingatan kampung halaman. (Foto: Sumber Facebook Sekho Mangarek)

Di balik lagu-lagu Makantar, ada perjalanan seorang musisi Minahasa yang percaya bahwa musik bukan sekadar hiburan. Ia adalah rumah bagi ingatan, bahasa, dan kerinduan yang tak selalu bisa dibawa pulang.

Di pusat Kota Tomohon, kehidupan tidak pernah benar-benar diam. Kendaraan melintas, orang-orang keluar masuk toko, dan percakapan kecil tumbuh di antara kesibukan yang tampaknya biasa saja. Udara sejuk datang dari arah pegunungan, membawa suasana yang akrab bagi siapa pun yang mengenal kota di kaki Lokon, Mahawu, dan Masarang itu.

Di sebuah toko sederhana, seorang lelaki duduk di balik meja kasir.

Tak ada panggung. Tak ada lampu sorot. Tak ada pula suasana yang mengisyaratkan bahwa lelaki itu pernah menjadi bagian dari perjalanan musik yang menemani banyak orang melewati masa muda mereka.

Ia melayani kehidupan sebagaimana orang kebanyakan menjalaninya: menerima kedatangan pelanggan, berbincang, dan sesekali tersenyum ketika seseorang menyapanya.

Namanya Edy Mangarek. Orang-orang mengenalnya dengan panggilan akrab Sekho.

Di sampingnya, Fetty Tampemawa, istrinya, menjalankan kesibukan yang sama sederhananya. Sesekali pelanggan datang, membeli sesuatu, lalu pergi. Percakapan berlanjut, waktu bergerak, dan hari menjalankan rutinitasnya.

Namun, di balik tempat itu, tersimpan perjalanan panjang tentang musik, persahabatan, perubahan zaman, dan sebuah kampung halaman yang terus hidup melalui lagu.

Tidak semua orang yang berhadapan dengan Sekho menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang musisi yang suaranya pernah menemani begitu banyak kenangan.

Barangkali memang demikian cara sejarah bekerja. Ia tidak selalu tinggal di museum, disimpan di balik kaca, atau dipajang dalam bingkai penghargaan. Kadang-kadang, sejarah duduk di belakang meja kasir, melayani pembeli, lalu pulang ke rumah seperti orang biasa.

Dan ada sesuatu yang menarik dari kenyataan itu: seorang musisi bisa meninggalkan panggung, tetapi lagu-lagunya tidak selalu ikut pergi.

Segalanya Bermula dari Sebuah Gereja

Tahun 1997.

Di Jemaat Fungsional Sion Tomohon, sekelompok anak muda berkumpul dengan sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami sebagai modal masa depan: suara, keberanian, dan keinginan untuk bernyanyi bersama.

Mereka tidak memulai perjalanan dengan peta industri musik. Tidak ada jaminan bahwa nama mereka kelak dikenal luas. Tidak ada pula kepastian bahwa lagu-lagu yang mereka nyanyikan akan bertahan melampaui masa ketika semuanya masih terasa baru.

Mereka hanya bernyanyi.

Kelompok itu bernama Makantar.

Bagi Sekho, musik bukan barang yang tiba-tiba muncul ketika seseorang memutuskan menjadi penyanyi. Ia tumbuh jauh sebelumnya, di dalam rumah, melalui bunyi-bunyian yang akrab dan orang-orang yang menjadikan seni bagian dari kehidupan sehari-hari.

Tetapi pada 1997, pengalaman bermusik itu mulai bergerak ke arah yang berbeda. Nyanyian bersama di lingkungan gereja membuka jalan menuju proses yang lebih serius: merekam lagu, menyusun album, dan memperkenalkan karya kepada pendengar di luar lingkaran mereka sendiri.

Makantar kemudian masuk ke DL Records di Manado. Dari studio itulah album pertama mereka, Om Manis + O, lahir.

Judulnya terdengar jenaka, seolah tidak terlalu peduli pada kebiasaan industri musik yang gemar membuat segala sesuatu tampak megah. Namun, ada sesuatu yang khas dari perjalanan kelompok ini: mereka membawa warna dan cara bertutur yang dekat dengan lingkungan tempat mereka tumbuh.

Setahun kemudian, mereka merilis album Haleluya.

Langkah itu memperlihatkan bahwa musik Makantar tidak harus memilih antara kedekatan dengan kehidupan lokal dan pesan spiritual. Keduanya bisa berjalan bersama, tanpa membuat lagu kehilangan kehangatan atau berubah menjadi khotbah yang dipaksakan.

“Waktu itu kami belum tahu kalau suara bisa jadi jalan hidup,” kenang Sekho dalam percakapan yang menjadi dasar tulisan ini. “Kami cuma tahu, kalau tidak menyanyi, rasanya ada yang kurang.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Justru karena itulah ia penting.

Ada perbedaan antara orang yang menyanyi karena ingin dikenal dan orang yang menyanyi karena merasa ada sesuatu dalam dirinya yang perlu disampaikan. Dalam perjalanan Makantar, keduanya mungkin pernah bersinggungan. Popularitas datang, pendengar bertambah, dan nama mereka semakin dikenal. Tetapi dorongan awalnya tetap berakar pada kegembiraan membuat musik bersama.

Sebelum ada album yang beredar, sebelum ada panggung yang lebih besar, semuanya bermula dari sekelompok anak muda yang ingin bernyanyi.

Kadang-kadang, sebuah perjalanan panjang memang dimulai tanpa pengetahuan bahwa perjalanan itu akan menjadi panjang.

Lagu yang Menemukan Jalannya Sendiri

Pada 1999, Makantar merilis lagu Rindu For Ngana.

Ada sesuatu yang menarik dari judul itu. Ia membawa bahasa percakapan yang akrab, bahasa yang tidak berjarak dari kehidupan sehari-hari orang Minahasa. Kata-katanya tidak berusaha menyembunyikan asal-usulnya agar terdengar lebih universal. Sebaliknya, justru dari kedekatan itulah lagu tersebut menemukan ruangnya.

Sekho mengingat tahun itu sebagai salah satu bagian penting dalam perjalanan mereka.

“Kami tidak menyangka lagu itu akan sejauh itu,” katanya.

Sebuah lagu tentang kerinduan mempunyai kemampuan yang aneh. Ia bisa lahir dari pengalaman seseorang, tetapi ketika sampai kepada pendengar, kepemilikannya perlahan berubah. Orang-orang mulai memasukkan pengalaman mereka sendiri ke dalamnya. Mereka mendengar cerita tentang dirinya, seseorang yang ditinggalkan, sebuah rumah yang jauh, atau masa ketika kehidupan terasa lebih sederhana.

Lagu itu tidak lagi hanya milik penciptanya atau penyanyinya. Ia menjadi bagian dari kehidupan orang yang mendengarkannya.

Bagi orang Minahasa yang tinggal jauh dari tanah kelahiran, kerinduan kepada kampung halaman bukan perkara yang selalu mudah dijelaskan. Ada rumah yang masih berdiri, keluarga yang menua, bahasa yang sesekali terdengar di tengah percakapan, dan kenangan tentang jalan-jalan yang mungkin sudah berubah.

Jarak geografis bisa diukur dengan kilometer. Jarak emosional jauh lebih sulit dihitung.

Sebuah lagu dapat memperpendek jarak itu, setidaknya untuk beberapa menit.

Dari Rindu For Ngana, perjalanan Makantar berlanjut melalui karya-karya lain, antara lain Hati Busu, Seni dan Budaya Minahasa, dan BOM (Bumbu Orang Manado).

Judul-judul tersebut memperlihatkan rentang yang menarik. Ada bahasa cinta, ada humor, ada kebudayaan, dan ada warna kehidupan Manado yang dibawa ke dalam musik.

Musik lokal, dalam pengertian ini, tidak berarti musik yang hanya boleh didengar oleh orang dari satu daerah. Ia justru memiliki peluang untuk menjangkau lebih jauh ketika berangkat dari pengalaman yang jujur.

Sekho pernah mengibaratkan musik seperti masakan. Bumbu harus pas agar orang mengingat rasanya.

Perumpamaan itu terasa dekat dengan kehidupan di Sulawesi Utara, tempat makanan, percakapan, dan pertemuan keluarga sering kali menjadi bagian penting dari cara orang membangun kedekatan.

Musik pun demikian. Terlalu banyak hiasan tidak otomatis membuatnya lebih berkesan. Yang bertahan justru bisa jadi sesuatu yang sederhana: nada yang mudah diingat, bahasa yang terasa akrab, atau kalimat yang seperti pernah diucapkan seseorang kepada kita.

Pendengar mungkin tidak selalu mengingat tahun sebuah album dirilis. Mereka bisa lupa siapa yang pertama kali memutar lagu itu. Namun, mereka masih ingat siapa yang duduk di sampingnya ketika lagu tersebut terdengar.

Di situlah musik mulai melampaui urusan rekaman.

Ia masuk ke dalam ingatan manusia.

Ketika Perubahan Menjadi Keharusan

Perjalanan kelompok musik tidak selalu berjalan lurus.

Pada 2002, kesibukan membuat formasi lama Makantar tidak lagi utuh. Bagi kelompok yang dibangun dari kebersamaan, perubahan semacam itu bukan sekadar persoalan teknis tentang siapa yang masih bisa hadir atau siapa yang harus melanjutkan kegiatan lain.

Ada kebiasaan yang berubah. Ada pembagian peran yang harus disusun ulang. Ada pula pertanyaan yang tidak selalu mudah dijawab: apakah perjalanan ini akan berakhir bersama formasi yang lama?

Makantar memilih jalan lain.

Lahirlah Makantar Makaaruyen.

Nama itu menandai perubahan, tetapi bukan pemutusan hubungan dengan perjalanan sebelumnya. Bagi Sekho, perubahan tersebut lebih tepat dipahami sebagai kelanjutan dari sesuatu yang sudah tumbuh dari dalam.

“Bukan mulai dari nol,” katanya, “tapi mulai dari dalam.”

Ada perbedaan penting di antara kedua hal itu.

Memulai dari nol berarti meninggalkan hampir seluruh pengalaman sebelumnya dan membangun sesuatu dari awal. Memulai dari dalam berarti membawa ingatan, keterampilan, dan keyakinan lama ke dalam bentuk yang baru.

Makantar Makaaruyen kemudian melanjutkan perjalanan dengan energi dan pendekatan yang berbeda. Album Haleluya menjadi bagian dari fase itu.

Mereka juga tidak berhenti pada satu formula. Pada 2007, eksperimen mereka merambah hip-hop dan rap melalui Tete Tambah Gas.

Bagi sebagian orang, percampuran musik tradisional atau lokal dengan genre modern mungkin menimbulkan pertanyaan tentang batas. Seberapa jauh sebuah musik dapat berubah sebelum kehilangan identitasnya?

Namun, pertanyaan itu mengandung anggapan bahwa identitas harus selalu tinggal di tempat yang sama.

Padahal, kebudayaan tidak tumbuh di ruang hampa. Ia bergerak bersama orang-orang yang menghidupkannya. Generasi berganti, selera berubah, teknologi berkembang, dan cara orang mendengarkan musik pun tidak lagi sama.

Jika sebuah lagu daerah hanya boleh dimainkan dengan cara yang persis seperti puluhan tahun sebelumnya, siapa yang akan mendengarkannya ketika generasi pendengarnya berubah?

Sekho memahami bahwa generasi muda tidak dapat begitu saja diminta menyukai masa lalu.

“Anak muda itu tidak bisa dipaksa mendengar masa lalu,” katanya. “Tapi kita bisa mengantar masa lalu masuk ke telinga mereka.”

Itulah salah satu tantangan terbesar bagi seorang seniman yang ingin menjaga warisan budaya: mempertahankan akar tanpa mengunci cabang-cabangnya.

Musik lokal tidak harus menjadi benda peninggalan yang hanya dikunjungi pada perayaan tertentu. Ia dapat hadir dalam bentuk yang lebih akrab bagi generasi baru, selama perubahan itu tidak menghapus seluruh alasan mengapa musik tersebut layak dipertahankan.

Dalam perjalanan Makantar, eksperimen bukan semata-mata upaya mengejar selera pasar. Ia juga menjadi cara untuk memastikan bahwa bahasa dan pengalaman lokal tetap mempunyai tempat dalam dunia yang terus berubah.

Tradisi, dengan demikian, tidak selalu bertahan karena tidak berubah.

Kadang-kadang, ia bertahan justru karena seseorang berani mengubah cara membawanya.

Dari Kobong ke Ingatan Banyak Orang

Salah satu album yang menandai perjalanan Makantar adalah Tinggal di Kobong.

Sekho mengenang album itu sebagai karya yang mendapat sambutan besar.

Kobong, dalam kehidupan masyarakat Minahasa, bukan sekadar kata untuk menunjuk tempat menanam. Ia membawa gambaran tentang kebun, pekerjaan, tanah, dan kehidupan yang dekat dengan alam. Di dalamnya ada pengalaman sehari-hari yang mungkin terasa biasa bagi orang yang menjalaninya, tetapi dapat menjadi penanda identitas bagi mereka yang sudah jauh dari lingkungan asal.

Ketika kata yang akrab diucapkan dalam sebuah lagu, ia membawa lebih dari arti kamusnya.

Ia dapat mengingatkan seseorang pada jalan menuju kebun, suara orang tua, percakapan di rumah, atau kehidupan yang pernah terasa begitu dekat sebelum waktu dan jarak mengubah segalanya.

Itulah salah satu kekuatan musik yang tumbuh dari kebudayaan lokal: ia tidak perlu menjelaskan setiap detail untuk membangkitkan ingatan.

Bagi pendengar yang memahami bahasa dan konteksnya, satu kata kadang sudah cukup.

Namun, sambutan besar terhadap sebuah album bukanlah keseluruhan cerita. Popularitas mempunyai sifat yang tidak selalu ramah terhadap manusia. Ia datang dengan perhatian, membawa pujian, lalu suatu ketika memberi ruang kepada nama dan lagu yang lain.

Industri hiburan terus bergerak. Selera pendengar berubah. Lagu-lagu baru datang dengan teknologi produksi yang semakin canggih dan saluran distribusi yang semakin cepat.

Apa yang pernah memenuhi ruang keluarga bisa perlahan menghilang dari percakapan sehari-hari.

Sekho tidak menempatkan keberhasilan semata-mata pada seberapa besar sebuah album pernah dikenal.

“Yang penting, masih ada yang merasa itu bagian dari hidup mereka,” ujarnya.

Pernyataan itu menggeser ukuran keberhasilan dari jumlah pendengar menuju kedalaman hubungan antara musik dan manusia.

Tentu saja, pencapaian profesional tetap berarti. Makantar memiliki perjalanan rekaman, pertunjukan, dan pengakuan. Kelompok ini juga mencatat kemenangan dalam Indonesia Song Festival 2006.

Namun, penghargaan tidak selalu bisa menjelaskan mengapa sebuah lagu bertahan dalam ingatan seseorang setelah bertahun-tahun.

Sebuah piala dapat menunjukkan bahwa karya pernah diakui. Ia tidak selalu bisa menjelaskan bagaimana lagu itu menemani seseorang melewati masa sulit, mengingatkannya pada orang yang sudah tiada, atau membuatnya merasa dekat dengan kampung halaman ketika berada jauh dari rumah.

Ada ukuran keberhasilan yang tidak dapat dipajang di dinding.

Ia hidup di dalam pengalaman orang-orang yang mendengarkan.

Pelajaran Pertama dari Bunyi Kayu

Jauh sebelum Makantar dikenal, Sekho sudah mengenal musik dari lingkungan rumahnya sendiri.

Di sana ada kolintang.

Instrumen yang tersusun dari bilah-bilah kayu itu bukan hanya menghadirkan bunyi. Ia juga menyimpan cara sebuah keluarga berhubungan dengan seni. Ayah Sekho menjadi bagian dari pengalaman awal tersebut, sementara kunjungan orang-orang yang memiliki ketertarikan pada kesenian memperluas dunia yang ia kenal sejak kecil.

Salah seorang yang disebut Sekho adalah Sonny Lengkong, seorang pelukis.

Musik dan lukisan memang menggunakan bahasa yang berbeda. Yang satu bergerak melalui bunyi dan waktu, yang lain melalui garis, warna, serta ruang. Namun, keduanya dapat tumbuh dari dorongan yang sama: keinginan untuk memberi bentuk kepada sesuatu yang dirasakan manusia.

Bagi seseorang, pengalaman seperti itu bisa menjadi pendidikan yang tidak tertulis. Ia belajar bahwa seni tidak selalu dimulai dari sekolah formal, panggung besar, atau pengakuan orang banyak.

Kadang-kadang, seni bermula ketika seseorang melihat ayahnya memainkan alat musik. Atau ketika seorang tamu datang membawa cerita, warna, dan cara pandang yang berbeda.

Sekho mengingat pengalaman itu sebagai sesuatu yang dekat, bukan sesuatu yang luar biasa karena kemegahannya.

“Itu yang pertama kali bikin saya jatuh cinta pada musik. Bukan karena hebat, tapi karena dekat,” katanya tentang kolintang di rumahnya.

Kalimat tersebut menjelaskan banyak hal tentang perjalanan yang kemudian ia pilih.

Kedekatan bukan lawan dari keahlian. Ia bisa menjadi sumbernya.

Seseorang yang tumbuh dengan musik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mungkin akan melihatnya secara berbeda dari orang yang mengenalnya hanya sebagai produk hiburan. Musik tidak berhenti ketika pertunjukan selesai. Ia tetap hidup dalam ingatan, dalam hubungan antarmanusia, dan dalam cara sebuah keluarga meneruskan kebiasaan kepada generasi berikutnya.

Dari pengalaman masa kecil itu, Sekho kemudian menjalani perjalanan sebagai musisi bersama Makantar. Ada rekaman, panggung, eksperimen, dan perjalanan yang membawanya jauh dari Tomohon.

Ia pernah mengikuti tur ke Amerika Serikat.

Perjalanan semacam itu tentu membuka pengalaman baru. Jarak geografis menjadi nyata, dan lingkungan yang berbeda memberi kesempatan untuk melihat musik dari sudut pandang yang lain.

Tetapi ketika berbicara tentang perjalanan paling jauh, Sekho tidak mengukurnya dengan peta.

Baginya, ada jarak yang lebih sulit ditempuh: jarak menuju hati seseorang yang sedang merindukan kampung halaman.

Di situlah musik menemukan salah satu maknanya yang paling manusiawi.

Perjalanan Terjauh Adalah Pulang

Bayangkan seseorang yang sudah lama meninggalkan tanah kelahirannya.

Hari-harinya dipenuhi pekerjaan, pertemuan, dan berbagai urusan yang harus diselesaikan. Ia belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Ia membangun kehidupan, mengenal tempat-tempat baru, dan mungkin sudah tidak lagi mengingat secara tepat warna pagar rumah masa kecilnya.

Lalu, pada suatu hari, sebuah lagu terdengar.

Bahasanya akrab. Nadanya membawa sesuatu yang pernah dikenal. Sebuah kata memanggil ingatan yang selama ini tidak muncul ke permukaan.

Untuk beberapa menit, jarak terasa berubah.

Ia mungkin masih berada ribuan kilometer dari rumah. Tidak ada yang berubah pada tiket perjalanan, alamat tempat tinggal, atau jadwal pekerjaannya. Namun, di dalam dirinya, sebuah pintu terbuka.

Kampung halaman hadir bukan sebagai peta, melainkan sebagai pengalaman.

Itulah gambaran yang dapat membantu kita memahami mengapa Sekho melihat perjalanan sebuah lagu melampaui batas geografis. Tur ke luar negeri adalah perjalanan yang dapat dicatat dengan tanggal, tempat, dan dokumentasi. Menjangkau seseorang yang merindukan kampung halamannya adalah perjalanan yang hasilnya tidak selalu terlihat.

Tidak ada tiket untuk mengukur jarak itu.

Tidak ada panggung yang menjamin bahwa sebuah lagu akan sampai ke tempat tersebut.

Tetapi musik memiliki kemungkinan untuk melakukannya.

Dalam konteks Minahasa, kemungkinan itu berkaitan erat dengan bahasa dan pengalaman bersama. Lagu yang menggunakan ungkapan sehari-hari dapat menjadi pengingat bahwa identitas bukan hanya sesuatu yang disimpan dalam dokumen atau dirayakan pada acara kebudayaan.

Identitas juga hidup dalam hal-hal kecil: kata yang digunakan ketika bercanda, cara menyebut seseorang, cerita tentang kebun, atau nada bicara yang dikenali bahkan setelah bertahun-tahun berpisah.

Musik tidak dapat menggantikan rumah. Ia tidak bisa menggantikan pelukan keluarga atau mengembalikan waktu yang sudah lewat.

Namun, ia dapat menjaga agar hubungan dengan semua itu tidak sepenuhnya putus.

Bagi Sekho, mungkin di situlah nilai sebuah lagu yang sesungguhnya. Bukan hanya ketika lagu itu populer, melainkan ketika ia masih mampu menghubungkan seseorang dengan bagian dirinya yang hampir terlupakan.

Menjadi Penjaga, Bukan Pemilik

Kembali ke toko di pusat Tomohon itu.

Di sana, kehidupan tidak menyediakan perlakuan istimewa hanya karena seseorang pernah berada di dunia musik. Pelanggan tetap datang untuk membeli barang. Percakapan berlangsung seperti biasa. Fetty melayani kesibukan hariannya, sementara Sekho menjalani peran yang jauh dari gambaran glamor seorang artis.

Kontras itu justru menarik.

Di satu sisi, ada perjalanan bermusik yang melahirkan album, pertunjukan, dan pengakuan. Di sisi lain, ada kehidupan sehari-hari yang berjalan tanpa banyak upacara.

Tidak semua perjalanan seni berakhir dengan seseorang yang terus berdiri di tengah sorotan. Ada yang kembali ke kehidupan yang lebih tenang, tetapi tetap membawa sesuatu dari masa lalu.

Sekho tidak perlu setiap hari berada di atas panggung untuk menjadi bagian dari perjalanan Makantar. Karya-karya yang pernah dibuat telah menemukan kehidupan masing-masing di luar dirinya.

Orang mendengarkannya dengan pengalaman berbeda. Ada yang mengingat masa muda. Ada yang menemukan kembali bahasa yang jarang digunakan. Ada pula yang mungkin baru mengenalnya ketika lagu-lagu lama beredar kembali melalui media digital.

Dalam keadaan seperti itu, seorang seniman tidak lagi sepenuhnya mengendalikan perjalanan karyanya.

Lagu yang dibuat bertahun-tahun lalu bisa menemukan pendengar baru. Makna yang ditangkap pendengar bisa berkembang melampaui maksud awal penciptanya. Sebuah karya dapat terus hidup bahkan ketika orang yang melahirkannya tidak lagi berada di panggung yang sama.

Sekho memahami bahwa musik tidak seharusnya berhenti sebagai barang koleksi.

“Musik itu bukan untuk disimpan di lemari,” katanya. “Dia harus hidup. Diputar, dinyanyikan, bahkan kalau bisa—diperdebatkan.”

Ada keyakinan yang menarik dalam pernyataan tersebut. Menjaga warisan bukan berarti menutupnya rapat-rapat agar tidak tersentuh perubahan. Justru sebaliknya, warisan perlu terus digunakan, didengar, dipertanyakan, dan diperkenalkan kepada orang-orang yang belum mengenalnya.

Jika sebuah lagu hanya diperlakukan sebagai peninggalan masa lalu, lama-kelamaan ia berisiko kehilangan hubungan dengan kehidupan yang terus bergerak.

Tetapi jika lagu itu terus dinyanyikan, dibicarakan, dan diolah dengan pemahaman terhadap akar budayanya, ia mempunyai kesempatan untuk memasuki masa depan.

Di sinilah pekerjaan menjaga kebudayaan menjadi lebih rumit daripada sekadar bernostalgia.

Nostalgia mengajak kita mengingat apa yang pernah ada. Pelestarian menuntut kita memikirkan apa yang harus dilakukan agar sesuatu yang berharga tidak berhenti pada ingatan.

Keduanya bisa berjalan bersama, tetapi tidak selalu sama.

Sekho pernah mengungkapkan dirinya sebagai penjaga irama yang hampir hilang. Ungkapan itu tidak harus dibaca sebagai klaim bahwa ia seorang diri memikul seluruh tanggung jawab atas musik Minahasa. Tidak ada satu orang yang dapat menggantikan peran sebuah komunitas, apalagi memastikan bahwa suatu kebudayaan terus hidup hanya dengan mengandalkan kenangan.

Namun, seseorang dapat mengambil bagian dalam pekerjaan itu.

Ia bisa membuat lagu, memperkenalkan bahasa, membuka jalan bagi generasi baru, atau sekadar memastikan bahwa karya lama tetap tersedia untuk didengar.

Pekerjaan tersebut mungkin tidak selalu tampak besar. Bahkan, bisa jadi tidak ada penghargaan baru yang menyertainya.

Tetapi dampaknya dapat bertahan jauh lebih lama daripada tepuk tangan.

Lagu yang Belum Selesai

Sore, seperti halnya waktu lain, pada akhirnya akan bergerak menuju malam. Orang-orang menyelesaikan pekerjaan, menutup toko, dan kembali kepada urusan masing-masing.

Di tengah kehidupan semacam itu, musik terus mencari jalannya sendiri.

Ada lagu yang tidak lagi sering terdengar di radio. Ada album yang mungkin sudah lama tidak ditemukan di rak toko. Ada pula generasi baru yang mengenal musik melalui telepon genggam, bukan melalui kaset atau perangkat pemutar yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan keluarga.

Teknologinya berubah. Cara mendengarkannya berubah. Bahkan, cara orang menemukan lagu kini bisa sangat berbeda dari masa ketika Makantar mulai merekam karya mereka.

Namun, perubahan media tidak otomatis menghapus kebutuhan manusia akan cerita yang dekat dengan dirinya.

Orang masih mencari lagu untuk mengingat seseorang. Mereka masih membutuhkan bunyi yang membuat perjalanan terasa lebih singkat, kesedihan terasa lebih bisa ditanggung, atau sebuah tempat terasa dekat meskipun jauh secara geografis.

Bagi musik yang berakar pada kebudayaan lokal, tantangannya adalah memastikan bahwa perubahan zaman tidak memutus hubungan antara karya dan dunia yang melahirkannya.

Anak muda tidak harus hidup seperti generasi sebelumnya untuk dapat memahami warisan mereka. Mereka tidak perlu mengulang seluruh pengalaman masa lalu agar bisa menghargai sebuah lagu.

Yang diperlukan adalah kesempatan untuk mengenalnya, memahami konteksnya, lalu menemukan alasan mengapa lagu itu masih berarti bagi kehidupan mereka sekarang.

Barangkali karena itulah perjalanan Makantar, dari nyanyian di lingkungan gereja pada 1997 hingga berbagai eksperimen musik pada tahun-tahun berikutnya, layak dilihat bukan sekadar sebagai kisah sebuah kelompok musik.

Di dalamnya ada pertanyaan yang lebih luas tentang bagaimana kebudayaan bertahan.

Apakah ia harus selalu tampil dalam bentuk yang sama? Apakah ia hanya hidup ketika sebuah lagu sedang populer? Ataukah ia tetap mempunyai tempat selama masih ada orang yang bersedia menyanyikan, mendengarkan, dan meneruskan ceritanya?

Tidak ada jawaban sederhana untuk semua pertanyaan itu.

Tetapi di sebuah toko di Tomohon, Sekho Mangarek telah menjalani sebagian jawabannya. Ia pernah bernyanyi, merekam lagu, mencoba bentuk-bentuk baru, dan menjadi bagian dari perjalanan musik yang melewati berbagai fase.

Kini, di luar panggung, ia tetap terhubung dengan sesuatu yang tidak mudah diukur oleh popularitas.

Ingatan.

Mungkin itulah yang membuat cerita Sekho lebih luas daripada kisah seorang musisi. Ia mengingatkan kita bahwa kebudayaan tidak selalu bertahan melalui peristiwa besar. Kadang-kadang, ia bertahan karena ada orang-orang yang terus mengerjakannya, bahkan ketika dunia tidak lagi memberi banyak perhatian.

Sebuah lagu bisa saja lahir di studio, dipasarkan melalui album, lalu menemukan pendengarnya di tempat yang tidak pernah dibayangkan penciptanya.

Ia mungkin terdengar di rumah seorang perantau, di dalam kendaraan yang melintasi jalan kota, atau melalui pengeras suara telepon genggam pada suatu malam yang sunyi.

Kita tidak selalu tahu siapa yang sedang mendengarkan. Kita juga tidak selalu tahu kenangan apa yang kembali ketika lagu itu terdengar.

Namun, selama lagu itu masih menemukan telinga, ceritanya belum sepenuhnya berakhir.

Dan mungkin, bagi Sekho, itulah arti sebenarnya dari menjaga irama: bukan memastikan bahwa semua orang terus mengingat namanya, melainkan memberi kesempatan agar sesuatu yang berharga tetap hidup setelah waktu bergerak jauh meninggalkan hari ketika semuanya bermula.

Sebab kampung halaman tidak selalu harus didatangi untuk dapat dirasakan.

Kadang-kadang, ia cukup dipanggil melalui sebuah lagu.

Lalu, dari tempat yang jauh, seseorang mendengarnya—dan untuk sesaat, merasa sudah pulang.

Bagikan Artikel Ini

Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda