Dari Manado ia berangkat mencari filsafat. Dari ruang kelas ia belajar tentang keadilan. Dari alam bebas ia menemukan batas manusia. Selama bertahun-tahun ia berdiri di luar pagar kekuasaan. Kini, ia justru berada di dalam Istana.
Ada manusia yang menemukan dirinya di ruang yang ramai.
Ada pula yang justru menemukannya ketika jauh dari keramaian.
Rocky Gerung tampaknya termasuk yang kedua.
Di ruang publik, ia dikenal melalui suara yang keras, kalimat yang tajam, dan keberanian memasuki wilayah perdebatan yang sering membuat orang lain memilih mundur. Tetapi di alam bebas, ia menemukan suasana yang berbeda.
Gunung tidak membutuhkan argumentasi.
Tebing tidak mengenal jabatan.
Hutan tidak peduli apakah seseorang seorang filsuf, pejabat, akademisi, atau orang biasa.
Di sana hanya ada tubuh, batu, angin, ketinggian, dan satu pertanyaan sederhana: di mana pijakan berikutnya?
Mungkin karena itu alam menjadi bagian penting dari kisah Rocky Gerung.
Sebab perjalanan hidupnya, jika ditarik lebih jauh, memang seperti sebuah pendakian: berpindah dari satu ruang ke ruang lain, meninggalkan sesuatu, mencari sesuatu, lalu kembali mempertanyakan apa yang sudah ditemukan.
Dari Manado.
Ke kampus.
Dari filsafat.
Ke ruang publik.
Dari masyarakat sipil.
Ke alam bebas.
Dan kini, pada usia 67 tahun, ke Istana Negara.
Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik Rocky Gerung sebagai salah satu dari 26 anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pengangkatan itu ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 107/P Tahun 2026.
Sebuah babak baru.
Dan sekaligus sebuah paradoks.
Sebab orang yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai pengkritik kekuasaan kini duduk di salah satu ruang yang berada dekat dengan pusat kekuasaan.
Anak Manado yang memilih jalan berliku
Rocky Gerung lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 20 Januari 1959.
Ia kemudian berangkat ke Jakarta dan memasuki Universitas Indonesia pada 1979. Perjalanan kuliahnya tidak berlangsung dalam satu garis lurus. Ia sempat masuk ke bidang ilmu sosial sebelum akhirnya memilih filsafat sebagai jalan intelektualnya.
Pada 1986, ia menyelesaikan pendidikan filsafat di Universitas Indonesia.
Pilihan itu kelak menjadi penting.
Sebab filsafat bukan sekadar bidang studi yang dipelajarinya untuk memperoleh gelar.
Filsafat menjadi cara untuk melihat dunia.
Bukan menerima sesuatu hanya karena dikatakan benar.
Bukan percaya karena yang mengatakannya memiliki jabatan.
Bukan tunduk karena mayoritas menganggapnya demikian.
Melainkan bertanya:
Mengapa?
Atas dasar apa?
Untuk siapa?
Dan apa konsekuensinya?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kemudian menjadi semacam sidik jari dalam perjalanan Rocky.
Pengajar yang tidak mengejar gelar
Setelah menyelesaikan studinya, Rocky kembali ke almamaternya.
Ia mengajar di Departemen Ilmu Filsafat UI sebagai dosen tidak tetap hingga awal 2015. Ia pernah mengampu mata kuliah seperti Filsafat Politik, Seminar Teori Keadilan dan Metode Penelitian Filsafat. Mantan pejabat dan akademisi UI yang dikutip Tirto juga mengonfirmasi bahwa Rocky memang pernah menjadi dosen tidak tetap di program studi filsafat UI.
Di sini terdapat salah satu bagian paling menarik dari kisah akademiknya.
Rocky tidak melanjutkan pendidikan formal ke jenjang magister dan doktor.
Pilihan itu akhirnya berkonsekuensi pada karier mengajarnya. Menurut keterangan akademisi UI yang dikutip Tirto, Rocky tidak lagi aktif mengajar sejak awal 2015, ketika ketentuan mengenai kualifikasi dosen mensyaratkan pendidikan minimal magister.
Ada ironi di sana.
Seseorang yang menghabiskan bertahun-tahun mengajarkan filsafat justru meninggalkan ruang kelas karena persoalan jenjang formal pendidikan.
Tetapi mungkin justru di situlah Rocky menemukan salah satu tema yang kemudian sangat melekat dengan dirinya: perbedaan antara pengetahuan dan formalitas pengetahuan.
Gelar dapat menunjukkan bahwa seseorang pernah menempuh pendidikan.
Tetapi gelar tidak dengan sendirinya menjamin kemampuan berpikir.
Bagi Rocky, tampaknya, pertanyaan selalu lebih penting daripada status orang yang mengajukan pertanyaan.
Dari filsafat menuju masyarakat sipil
Namun Rocky tidak berhenti di kampus.
Ia membawa gagasan-gagasan filsafat ke ruang yang lebih luas: masyarakat sipil.
Pada 2005, Rocky tercatat sebagai salah satu orang yang memulai SETARA Institute. Dalam catatan resmi organisasi tersebut, Rocky Gerung termasuk dalam daftar mereka yang memulai SETARA ketika organisasi itu berdiri pada 14 Oktober 2005. Nama-nama lain yang tercatat antara lain Abdurrahman Wahid dan Azyumardi Azra.
SETARA kemudian berkembang sebagai organisasi penelitian dan advokasi kebijakan yang bekerja pada isu pluralisme, kemanusiaan, demokrasi, hak asasi manusia, dan kesetaraan.
Di titik ini, filsafat Rocky menemukan medan yang lebih konkret.
Sebab demokrasi bukan hanya teori tentang negara.
Ia menyentuh kehidupan sehari-hari.
Tentang apakah seseorang dapat berbeda tanpa harus dimusuhi.
Tentang apakah kelompok minoritas memperoleh perlakuan yang setara.
Tentang apakah kebebasan beragama dapat dijaga.
Tentang apakah kekuasaan bersedia mendengar suara yang tidak menyenangkannya.
Dan tentang bagaimana manusia diperlakukan ketika ia tidak memiliki kekuasaan.
Barangkali itulah salah satu benang merah yang sering luput ketika Rocky hanya dibaca sebagai komentator politik.
Di balik retorikanya tentang kekuasaan terdapat dunia gagasan yang lebih panjang: demokrasi, kebebasan sipil, kesetaraan, kemanusiaan, dan tanggung jawab etis.
Ketika filsafat turun ke jalan
Lalu televisi datang.
Ruang diskusi nasional berubah.
Nama Rocky Gerung perlahan keluar dari lingkungan kampus dan memasuki rumah-rumah melalui layar kaca.
Ia tampil dalam berbagai forum diskusi, termasuk Indonesia Lawyers Club, dan kemudian menjadi salah satu intelektual publik yang paling mudah dikenali dari gaya bicaranya.
Filsafat yang biasanya terdengar berat di ruang kuliah tiba-tiba hadir dalam perdebatan politik.
Logika.
Etika.
Demokrasi.
Akal sehat.
Kekuasaan.
Semua bercampur dengan bahasa yang kadang akademis, kadang satir, dan sering kali sengaja dibuat tajam.
Di mata pendukungnya, gaya tersebut menjadi bentuk keberanian berbicara.
Bagi pengkritiknya, retorikanya kadang dianggap terlalu provokatif.
Perbedaan itu justru membuat Rocky semakin menonjol sebagai figur ruang publik.
Namun ada satu hal yang perlu dibedakan.
Kritik terhadap gaya bicara tidak otomatis membatalkan substansi gagasan; demikian pula ketajaman sebuah gagasan tidak otomatis membuat seluruh pernyataan seseorang benar.
Rocky menjadi menarik justru karena ia terus berada di wilayah perdebatan itu.
Ia tidak selalu nyaman.
Ia tidak selalu diterima.
Tetapi ia selalu mengundang orang untuk bereaksi.
Dan bagi seorang intelektual publik, reaksi publik adalah bagian dari risiko pekerjaan.
“Oposisi permanen” dan jarak terhadap kekuasaan
Selama bertahun-tahun, Rocky membangun citra sebagai pengkritik pemerintah.
Ia tidak dikenal sebagai kader partai yang duduk di parlemen.
Ia lebih sering berdiri di luar struktur formal kekuasaan dan mengomentari bagaimana kekuasaan bekerja.
Dalam posisi tersebut, ia kerap menggunakan bahasa tentang akal sehat, etika publik, demokrasi, dan kebebasan berpikir.
Istilah “oposisi permanen” kemudian melekat pada cara publik membaca dirinya.
Tetapi oposisi dalam pengertian ini bukan semata-mata soal berada di pihak partai tertentu.
Lebih tepat jika dibaca sebagai posisi intelektual: menjaga jarak dari kekuasaan agar kekuasaan dapat terus dipertanyakan.
Jarak itu penting.
Sebab terlalu dekat dengan kekuasaan dapat membuat kritik berubah menjadi pembenaran.
Tetapi terlalu jauh juga dapat membuat kritik kehilangan pengetahuan tentang bagaimana keputusan sebenarnya dibuat.
Rocky kini memasuki wilayah yang kedua.
Ia tidak lagi hanya mengamati dari luar.
Gunung, tebing, dan ruang untuk bernapas
Ada sisi lain Rocky yang jauh dari hiruk-pikuk politik.
Gunung.
Tebing.
Alam bebas.
Kecintaannya terhadap kegiatan mendaki dan memanjat tebing telah lama menjadi bagian dari kisah hidupnya. Sebuah kajian yang mendokumentasikan kebiasaan tersebut mencatat bahwa Rocky kerap mendaki, termasuk ke kawasan Gunung Gede dan Pangrango, dan menggambarkan suara alam sebagai semacam orkestrasi.
Bayangkan seorang Rocky yang berbeda.
Tidak ada kamera.
Tidak ada panel diskusi.
Tidak ada lawan debat.
Tidak ada tepuk tangan.
Hanya jalur pendakian.
Pohon.
Angin.
Batu.
Dan tubuh yang harus menemukan keseimbangannya sendiri.
Di tempat seperti itu, seseorang belajar bahwa alam tidak bisa diperdebatkan.
Gunung tidak bisa diyakinkan dengan retorika.
Tebing tidak bisa dipersuasi oleh jabatan.
Gravitasi tidak mengenal popularitas.
Itulah sebabnya alam mungkin memiliki hubungan yang lebih dalam dengan cara berpikir Rocky daripada sekadar hobi.
Di alam bebas, manusia dipaksa menyadari batas.
Dan kesadaran tentang batas merupakan bagian penting dari etika.
Kita boleh membangun.
Tetapi sampai di mana?
Kita boleh mengeksploitasi.
Tetapi kapan harus berhenti?
Kita memiliki kekuasaan.
Tetapi apakah semua yang dapat kita lakukan berarti boleh dilakukan?
Pertanyaan terakhir itu membawa alam kembali ke filsafat.
Dari tebing menuju Istana
Lalu datang 2 Oktober 2026.
Istana Negara.
Presiden Prabowo Subianto mengangkat 26 anggota Wantimpres. Rocky Gerung tercantum sebagai anggota nomor 17 dalam daftar resmi yang dikeluarkan Sekretariat Negara. Pratikno menjadi ketua merangkap anggota.
Di situlah perjalanan Rocky memasuki babak yang paling paradoks.
Sebab selama bertahun-tahun ia berbicara dari luar.
Kini ia berada di dalam.
Namun Rocky tidak menggambarkan perpindahan tersebut sebagai perubahan sikap.
Setelah pelantikan, ia mengatakan bahwa dirinya “cuma pindah dari luar ke dalam” dan menyatakan sikap serta pandangannya tetap.
Kalimat itu menarik karena mengandung sebuah janji sekaligus sebuah tantangan.
Janji bahwa posisi baru tidak otomatis mengubah prinsip.
Tantangan karena prinsip yang selama ini diuji di luar kekuasaan kini harus diuji dari dalam.
Etika di ruang kekuasaan
Menurut Rocky, Presiden memberikan pesan bahwa Wantimpres memiliki kedudukan etis, bukan teknis.
Ia menjelaskan bahwa fungsi tersebut antara lain melihat ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan agar sesuai dengan visi Presiden. Ia juga mengatakan pertimbangan anggota Wantimpres harus didasarkan pada tanggung jawab etis masing-masing, bukan kepentingan kelompok.
Ini menarik.
Karena kata yang dipilih Rocky adalah etis.
Bukan teknis.
Bukan pelaksana.
Bukan pembuat keputusan akhir.
Dalam penjelasannya, Rocky menggambarkan Wantimpres sebagai ruang untuk melakukan kontemplasi dan evaluasi, termasuk mengambil jarak dari peristiwa konkret agar dapat melihat persoalan secara lebih luas. ANTARA juga mencatat penjelasannya bahwa pertimbangan Wantimpres menjadi bahan bagi Presiden dalam mengambil keputusan.
Dengan demikian, posisi baru Rocky justru membawa kembali dirinya kepada wilayah yang sejak awal membentuknya: gagasan dan pertimbangan.
Bukan menjalankan pemerintahan.
Melainkan memberi pertimbangan kepada orang yang menjalankan pemerintahan.
Sebuah ujian yang belum memiliki jawaban
Tetapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak.
Masuknya Rocky ke Wantimpres tidak otomatis membuktikan bahwa ia telah berubah.
Begitu pula tidak otomatis membuktikan bahwa ia akan tetap menjadi pengkritik seperti sebelumnya.
Keduanya belum dapat disimpulkan.
Yang tersedia saat ini adalah fakta bahwa ia telah menerima jabatan tersebut dan pernyataannya bahwa sikap serta pandangannya tidak berubah.
Selebihnya adalah perjalanan yang harus dilihat melalui tindakan.
Sebab prinsip paling mudah diucapkan ketika seseorang belum memiliki jabatan.
Ujian sesungguhnya datang ketika jabatan itu sudah berada di tangan.
Apakah kritik tetap dapat disampaikan ketika orang yang dikritik berada di ruang yang sama?
Apakah seorang penasihat dapat mengatakan “tidak” ketika semua orang di ruangan menginginkan “ya”?
Apakah kedekatan dengan pusat kekuasaan justru memberikan perspektif baru?
Atau apakah jarak yang dahulu menjadi sumber ketajaman perlahan menghilang?
Tidak ada jawaban hari ini.
Dan mungkin memang tidak perlu ada.
Manusia di balik suara yang keras
Di luar semua perdebatan tentang Rocky, ada seorang anak Manado yang pada usia muda berangkat ke Jakarta dan memilih filsafat.
Ada seorang mahasiswa yang berpindah jalan sebelum menemukan bidang yang dianggapnya paling sesuai.
Ada seorang pengajar yang bertahun-tahun berdiri di depan kelas tanpa gelar magister atau doktor.
Ada seorang aktivis yang terlibat dalam kerja masyarakat sipil.
Ada seorang pembaca dan pemikir yang membawa perdebatan filsafat ke ruang publik.
Ada seorang pendaki yang mencari kesunyian di antara gunung dan tebing.
Dan kini ada seorang anggota Wantimpres yang harus membawa seluruh pengalaman tersebut ke dalam sebuah lembaga negara.
Itulah Rocky Gerung sebagai manusia.
Bukan hanya suara dari televisi.
Bukan hanya kalimat yang viral.
Bukan hanya kritik terhadap pemerintah.
Dan bukan pula sekadar jabatan baru di Istana.
Dari puncak gunung ke gelanggang Istana
Gunung dan Istana adalah dua dunia yang hampir berlawanan.
Di gunung, manusia berhadapan dengan alam.
Di Istana, manusia berhadapan dengan kekuasaan.
Di gunung, kesalahan pijakan bisa membuat tubuh jatuh.
Di ruang kekuasaan, kesalahan pertimbangan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas.
Tetapi keduanya memiliki satu kesamaan:
keduanya menuntut keseimbangan.
Mungkin itu sebabnya perjalanan Rocky Gerung menjadi menarik untuk dicatat.
Ia datang dari tradisi filsafat yang mengajarinya bertanya.
Dari masyarakat sipil yang mengajarinya tentang kesetaraan dan kebebasan.
Dari alam bebas yang mengajarinya tentang batas.
Dan kini ia berada di sebuah lembaga yang menuntut pertimbangan terhadap kekuasaan.
Apakah semua pengalaman itu akan bertemu di sana?
Kita belum tahu.
Tetapi justru ketidaktahuan itulah yang membuat kisahnya belum selesai.
Rocky telah sampai di Istana.
Namun perjalanan seorang pemanjat tebing tidak selesai ketika mencapai satu titik ketinggian.
Ia masih harus mencari pijakan berikutnya.
Dan di gelanggang kekuasaan, pijakan itu tidak selalu terlihat.
Barangkali, pada akhirnya, pertanyaan tentang Rocky bukanlah apakah ia berubah karena masuk Istana.
Pertanyaan yang lebih menarik adalah:
ketika seorang pengkritik masuk ke dalam kekuasaan, apakah ia masih mampu membawa suara dari luar bersamanya?
Waktu yang akan menjawab.
Dan seperti gunung yang tidak pernah tergesa-gesa, jawabannya mungkin tidak datang melalui kata-kata.
Melainkan melalui jejak langkah.
Sumber dan Rujukan
Sekretariat Negara Republik Indonesia, “Presiden Prabowo Angkat 26 Anggota Wantimpres di Istana Negara”, 2 Oktober 2026.
Tempo, “Rocky Gerung: Wantimpres Punya Kedudukan Etis”, 3 Oktober 2026.
Investortrust.id, “Dilantik Prabowo Jadi Wantimpres, Rocky Gerung: Cuma Pindah dari Luar ke Dalam”, 2 Oktober 2026.
SETARA Institute, “Tentang SETARA” — riwayat pendirian dan keterlibatan tokoh-tokoh awal SETARA Institute.
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), “Pelantikan Pengurus FPTI Papua Barat Daya, Rocky Gerung Ingatkan Panjat Tebing Jadi Cabor yang Kampanyekan Sportivitas dan Perdamaian”, 18 April 2024.
Katadata, “Peran Yenny Wahid hingga Rocky Gerung di Panjat Tebing, Berujung Emas Olimpiade”, 9 Agustus 2024.
Suara.com, “Ditanya soal Niat Nyapres di 2029, Rocky Gerung: Hobi Saya Panjat Tebing, Bukan Panjat Kekuasaan!”, 19 Agustus 2025.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden, sebagai dasar hukum mengenai kedudukan dan fungsi Wantimpres.
Universitas Indonesia / Departemen Ilmu Filsafat FIB UI serta sumber pemberitaan terkait, untuk rekam jejak Rocky Gerung sebagai dosen tidak tetap dan aktivitas akademiknya di UI.
Tulisan ini juga diterbitkan di blog utama DORANG. Untuk membaca versi lengkap beserta pembaruan terkait, kunjungi:
Dialektika Akal Sehat: Rocky Gerung dari Tebing ke Istana →