Langsung ke konten

Di Kota Bunga, ke Mana Kaki Kita Harus Berjalan?

Ilustrasi suasana Tomohon sebagai Kota Bunga, dengan pejalan kaki menyeberang jalan di tengah lalu lintas dan hiasan bunga.
Kota bukan hanya panggung festival. Ia juga adalah jalan yang setiap hari dilalui warganya. Di sanalah wajah sebuah kota benar-benar terlihat. Gambar adalah hasil rekayasa kolaborasi dengan teknologi AI.

Di Kota Bunga, ke Mana Kaki Kita Harus Berjalan?

Tentang trotoar, rambu lalu lintas, bunga, dan sebuah kota yang sedang belajar memahami dirinya sendiri.

Pagi di Tomohon datang bersama udara yang masih dingin.

Di kejauhan—pada punggung gunung—kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari pepohonan. Jalan-jalan mulai dipenuhi sepeda motor, mobil, angkutan umum, anak-anak berseragam sekolah, pedagang yang membuka lapak, dan orang-orang yang berjalan dengan urusannya masing-masing.

Seorang anak menggenggam tangan ibunya.

Mereka berjalan di tepi jalan.

Bukan karena ingin menikmati suasana kota dengan berjalan kaki.

Mereka berjalan di sana karena tidak banyak pilihan.

Di beberapa ruas jalan, trotoar tersedia. Tetapi trotoar tidak selalu berarti ruang yang benar-benar tersedia bagi pejalan kaki. Ada bagian yang terputus. Ada yang berubah fungsi. Ada kendaraan yang berhenti atau parkir. Ada bagian yang membuat orang harus turun ke badan jalan lalu kembali lagi ke trotoar.

Sementara kendaraan terus bergerak.

Motor menyelip.

Mobil melintas.

Suara mesin bercampur dengan klakson dan percakapan orang-orang yang baru memulai hari.

Anak itu mungkin tidak tahu apa arti walkability.

Ia hanya tahu satu hal sederhana: jalan di sampingnya harus aman.

Dan justru dari langkah kecil seperti itulah kita seharusnya mulai membicarakan sebuah kota.

Bukan dari baliho.

Bukan dari slogan.

Bukan pula dari berapa banyak bunga yang berhasil dirangkai menjadi kendaraan hias.

Melainkan dari pertanyaan yang jauh lebih sederhana:

Apakah kota ini memperlakukan orang yang berjalan kaki dengan baik?

Kota yang Cantik dari Kejauhan

Tomohon memiliki modal yang tidak dimiliki semua kota.

Ia berada di dataran tinggi Minahasa, di antara gunung-gunung yang membentuk lanskapnya. Udara relatif sejuk. Tanahnya subur. Kebun-kebun bunga menjadi bagian dari kehidupan ekonomi sekaligus identitas masyarakat.

Kemudian datang sebuah nama yang membuat Tomohon dikenal jauh melampaui batas kota:

Tomohon International Flower Festival.

TIFF mengubah cara kota ini menampilkan dirinya.

Jalan-jalan protokol pernah berubah menjadi panggung. Kendaraan hias dipenuhi bunga. Warga berdiri di pinggir jalan. Anak-anak dibawa orang tua mereka untuk melihat parade. Kamera ponsel terangkat. Tamu dari berbagai tempat datang.

Tomohon berdandan.

Dan ketika bunga-bunga disusun menjadi bentuk raksasa, ketika kendaraan hias bergerak perlahan di antara kerumunan, ketika ribuan orang memenuhi jalan, kota itu seperti mengatakan kepada dunia:

Lihat kami.

Ada alasan mengapa bunga menjadi identitas yang kuat.

Bunga bukan benda asing yang tiba-tiba didatangkan untuk kepentingan festival. Di belakang panggung itu ada petani, kebun, tanah, air, keterampilan, dan tradisi yang telah lama hidup.

Di Kakaskasen, misalnya, bunga tidak tumbuh karena pemerintah menetapkan sebuah slogan.

Ia tumbuh karena ada orang yang menanamnya.

Pagi-pagi sekali, jauh sebelum penonton parade datang, petani sudah berada di kebun.

Tangan mereka menyentuh daun.

Mata mereka memeriksa tunas.

Gunting memotong tangkai.

Bunga yang kelak terlihat begitu indah di panggung festival sebelumnya hanyalah tanaman yang dirawat dengan sabar.

Di situlah paradoks pertama Tomohon muncul.

Bunga yang menjadi identitas kota tumbuh dari kerja yang nyaris tidak pernah masuk panggung.

Tetapi Kota Bukan Hanya Panggung

Ada sesuatu yang sering terlupakan ketika sebuah kota membangun citra.

Citra adalah bagaimana kota ingin dilihat.

Kehidupan sehari-hari adalah bagaimana kota benar-benar dialami.

Keduanya bisa sama.

Tetapi bisa juga berbeda.

Di hari festival, jalan dapat terlihat luar biasa.

Bunga menghiasi kendaraan.

Ruang publik dipenuhi warna.

Orang-orang datang membawa kamera.

Tetapi beberapa hari kemudian, ketika parade selesai, bunga dipindahkan. Kendaraan hias dibongkar. Jalan kembali menjadi jalan.

Di sanalah kota kembali menjadi dirinya sendiri.

Dan ketika suasana festival menghilang, pertanyaan yang tersisa bukan lagi:

Berapa banyak rekor yang berhasil dibuat?

Pertanyaannya menjadi lebih sederhana:

Bagaimana rasanya hidup di sini setiap hari?

Bagaimana rasanya membawa anak berjalan ke sekolah?

Bagaimana rasanya menjadi orang tua yang harus menyeberang jalan?

Bagaimana rasanya menjadi lansia yang berjalan perlahan?

Bagaimana rasanya menggunakan kursi roda?

Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak memiliki kendaraan dan harus mengandalkan kedua kakinya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain?

Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak spektakuler.

Tidak menghasilkan sertifikat.

Tidak masuk berita sebagai rekor.

Tetapi justru di situlah ukuran sebuah kota menjadi manusiawi.

Trotoar yang Seharusnya Menjadi Ruang Sederhana

Trotoar sebenarnya bukan sesuatu yang rumit.

Ia adalah ruang untuk berjalan.

Sederhana.

Tetapi justru karena kesederhanaannya, ia sering dianggap sepele.

Padahal bagi orang yang tidak memiliki kendaraan, trotoar adalah bagian penting dari kehidupan.

Ia adalah jalan menuju sekolah.

Jalan menuju pasar.

Jalan menuju tempat kerja.

Jalan menuju rumah.

Jalan menuju halte.

Jalan menuju tempat ibadah.

Jalan menuju tempat orang lain.

Sebuah kota yang ramah pejalan kaki tidak sekadar memiliki trotoar. Ia memastikan trotoar tersebut dapat digunakan.

Ada kesinambungan.

Ada keamanan.

Ada akses.

Ada ruang yang cukup.

Ada penyeberangan yang masuk akal.

Ada perlindungan dari kendaraan.

Ada perhatian kepada kelompok rentan.

Dan ada satu prinsip sederhana yang sering hilang dalam pembangunan kota:

jalan bukan hanya milik kendaraan.

Di Tomohon, persoalan itu terasa ketika pejalan kaki harus berbagi ruang dengan kendaraan, ketika trotoar digunakan untuk parkir, ketika penyeberangan tidak selalu mudah, atau ketika fasilitas lalu lintas tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Di dekat kawasan yang menjadi pusat aktivitas kota, orang dapat menikmati kopi, berbincang, mengambil foto, dan menikmati suasana.

Tetapi bagaimana seseorang berjalan menuju tempat itu?

Pertanyaan semacam ini jarang masuk dalam brosur pariwisata.

Padahal wisatawan juga berjalan kaki.

Dan warga kota lebih sering melakukannya.

Lampu yang Mati dan Rambu yang Kehilangan Suara

Ada sesuatu yang menarik dari rambu lalu lintas.

Ia tidak pernah berteriak.

Tidak marah.

Tidak mengejar orang yang melanggar.

Ia hanya berdiri.

Sebuah tanda larangan parkir tetap berdiri meskipun seseorang memarkir kendaraan tepat di bawahnya.

Lampu lalu lintas tetap berada di persimpangan meskipun tidak berfungsi.

Marka jalan tetap terlukis meskipun tidak dihormati.

Rambu seolah-olah berbicara dengan bahasa yang sangat sopan.

Masalahnya, kota tidak dibangun hanya dengan simbol.

Simbol membutuhkan kepatuhan.

Dan kepatuhan membutuhkan penegakan.

Karena itu rambu lalu lintas bukan dekorasi.

Ia adalah bagian dari sistem keselamatan.

Ketika sebuah rambu larangan parkir dilanggar terus-menerus, masalahnya bukan lagi sekadar satu kendaraan yang berhenti di tempat yang salah.

Ada pesan yang lebih besar:

aturan bisa diabaikan.

Dan ketika aturan terlalu sering diabaikan tanpa konsekuensi, masyarakat belajar sesuatu yang berbahaya.

Mereka belajar bahwa tanda di jalan hanyalah saran. Padahal lalu lintas tidak bekerja berdasarkan saran. Ia bekerja berdasarkan aturan yang dipatuhi bersama.

Kota yang Terlihat dari Ketinggian dan Kota yang Dirasakan dari Bawah

Tomohon pernah membangun berbagai simbol besar.

Ada bunga raksasa.

Ada salib bunga.

Ada karpet bunga.

Ada parade.

Ada tarian massal.

Ada rekor.

Dari atas, semua itu terlihat indah.

Kota seperti lukisan.

Tetapi kota juga harus dilihat dari bawah.

Dari posisi seorang anak yang hendak menyeberang jalan.

Dari posisi ibu yang menggandeng anaknya.

Dari posisi petani yang membawa hasil kebun.

Dari posisi pedagang yang mendorong gerobak.

Dari posisi orang tua yang langkahnya mulai pendek.

Dari posisi penyandang disabilitas yang membutuhkan akses tanpa hambatan.

Dari posisi wisatawan yang tidak mengenal jalan dan memilih berjalan kaki.

Dari posisi seseorang yang pulang bekerja ketika hari mulai gelap.

Dari sana, ukuran kota berubah.

Yang sebelumnya tampak kecil menjadi penting.

Trotoar menjadi penting.

Lampu jalan menjadi penting.

Marka menjadi penting.

Rambu menjadi penting.

Tempat menyeberang menjadi penting.

Drainase menjadi penting.

Bahkan sebuah bangku untuk beristirahat bisa menjadi penting. Sebab kota bukan hanya apa yang terlihat ketika difoto.

Kota adalah apa yang dirasakan ketika dijalani.

Bunga dan Aspal

Ada ironi kecil di sini.

Tomohon menghabiskan energi untuk membuat bunga tampak luar biasa.

Bunga dirangkai dengan presisi.

Kendaraan hias dibuat dengan detail.

Panggung disiapkan.

Jalan dibersihkan.

Orang-orang bekerja agar sebuah perayaan dapat berlangsung sempurna.

Tetapi bunga pada akhirnya akan layu.

Kendaraan hias akan dibongkar.

Panggung akan diturunkan.

Penonton akan pulang.

Yang tersisa adalah kota.

Aspal.

Trotoar.

Persimpangan.

Rambu.

Lampu lalu lintas.

Pasar.

Sekolah.

Kantor.

Rumah.

Dan orang-orang yang tetap tinggal.

Mungkin justru di situlah ukuran sesungguhnya sebuah festival. Bukan hanya apakah ia mampu membuat orang datang. Tetapi apakah setelah mereka pulang, kota itu tetap terasa layak untuk ditinggali.

Kota Bunga Tidak Harus Selalu Berbunga

Ada godaan untuk memahami identitas Tomohon melalui sesuatu yang spektakuler.

Kota Bunga.

Festival Bunga.

Rekor MURI.

Kendaraan hias.

Parade.

Semua itu penting.

Tetapi identitas kota tidak boleh berhenti pada apa yang bisa dipamerkan. Sebab bunga yang sesungguhnya tidak hanya berada di kendaraan hias.

Ia ada di kebun.

Ada di tangan petani.

Ada pada pagi yang dingin.

Ada pada tanah yang basah.

Ada pada kesabaran orang yang menunggu tanaman tumbuh.

Dan mungkin, jika identitas itu hendak dibawa lebih jauh, bunga juga harus diterjemahkan menjadi cara sebuah kota memperlakukan manusia.

Kota yang indah seharusnya juga aman.

Kota yang menarik wisatawan seharusnya nyaman dijelajahi.

Kota yang bangga dengan ruang publik seharusnya menyediakan ruang bagi semua orang.

Kota yang ingin disebut maju seharusnya tidak memaksa orang memilih antara berjalan di trotoar atau mempertaruhkan keselamatan di badan jalan.

Di sinilah makna Kota Bunga dapat diperluas.

Bukan hanya kota yang memiliki bunga.

Tetapi kota yang memberi ruang agar kehidupan dapat tumbuh.

Seorang Anak di Pinggir Jalan

Kembali kepada anak tadi.

Pagi sudah semakin terang.

Kabut perlahan hilang tersapu sinar mentari.

Kendaraan semakin banyak.

Ia masih menggenggam tangan ibunya.

Mereka berjalan.

Mungkin beberapa meter kemudian mereka menemukan trotoar yang lebih baik.

Mungkin harus turun ke tepi jalan.

Mungkin harus menunggu kendaraan lewat sebelum menyeberang.

Anak itu mungkin tidak memikirkan semua persoalan tata ruang kota.

Ia tidak tahu tentang peraturan daerah.

Tidak tahu tentang standar teknis trotoar.

Tidak tahu tentang walkability index.

Tidak tahu berapa banyak anggaran yang diperlukan untuk membangun sebuah jalur pedestrian.

Ia hanya tahu bahwa tangan ibunya harus tetap digenggam. Dan kendaraan harus berhenti ketika ia menyeberang.

Bukankah itu inti paling sederhana dari sebuah kota yang baik?

Bahwa orang yang paling lemah di jalan tidak perlu menjadi pemberani hanya untuk sampai ke seberang.

Tomohon Sedang Memilih

Pada akhirnya, persoalan Tomohon bukan tentang memilih antara bunga atau trotoar.

Bukan pula antara festival atau keselamatan lalu lintas.

Bukan antara pariwisata atau kebutuhan warga.

Kota yang matang seharusnya mampu melakukan semuanya.

Festival dapat berjalan.

Petani bunga dapat sejahtera.

Wisatawan dapat datang.

Ruang publik dapat hidup.

Dan pada saat yang sama, warga dapat berjalan kaki dengan aman.

Rambu dapat dihormati.

Lampu lalu lintas dapat berfungsi.

Trotoar dapat dikembalikan kepada pemilik sebenarnya: pejalan kaki.

Karena pembangunan kota bukan pertandingan antara keindahan dan fungsi.

Keduanya justru seharusnya bertemu.

Sebuah kota tidak kehilangan keindahannya hanya karena ia menyediakan trotoar yang baik.

Sebaliknya, kota menjadi lebih indah ketika manusia dapat berjalan tanpa takut.

Bunga yang Tidak Perlu Dipajang

Mungkin suatu hari nanti Tomohon tidak hanya dikenal karena mampu membuat bunga berukuran raksasa.

Bukan hanya karena kendaraan hiasnya.

Bukan hanya karena festivalnya.

Bukan hanya karena rekor yang pernah dicatat. Tetapi karena ada sesuatu yang lebih sulit dibuat daripada sebuah rekor:

kepercayaan warga bahwa kota ini memikirkan mereka.

Bahwa ketika seorang anak berjalan ke sekolah, ada ruang untuknya.

Bahwa ketika seorang ibu membawa belanjaan, ia tidak perlu turun ke badan jalan.

Bahwa ketika seorang lansia hendak menyeberang, kendaraan bersedia memberi jalan.

Bahwa ketika sebuah rambu dipasang, aturan di baliknya benar-benar dihormati.

Bahwa ketika pemerintah berbicara tentang keindahan kota, keindahan itu tidak berhenti pada apa yang terlihat dari kamera.

Ia terasa sampai ke telapak kaki.

Mungkin itulah bunga yang paling penting.

Bunga yang tidak perlu dirangkai.

Tidak perlu diberi pupuk.

Tidak perlu didaftarkan sebagai rekor.

Tidak perlu dipajang di panggung.

Bunga itu tumbuh ketika sebuah kota mulai mengerti bahwa manusia bukan sekadar penonton pembangunan.

Mereka adalah alasan pembangunan itu dilakukan.

Dan ketika suatu pagi seorang anak berjalan bersama ibunya di sebuah trotoar yang aman, tanpa harus takut kepada kendaraan yang melintas di sampingnya, mungkin saat itu Tomohon sedang menunjukkan wajah terbaiknya.

Bukan wajah yang dipoles untuk festival.

Bukan wajah yang dibuat untuk kamera.

Melainkan wajah kota yang benar-benar hidup.

Di Kota Bunga, barangkali bunga terbaik bukan yang paling tinggi, paling besar, atau paling banyak mendapatkan rekor.

Bunga terbaik adalah ketika manusia bisa berjalan dengan aman pulang ke rumah.

Bagikan Artikel Ini

Donny Turang

Donny Turang

Jurnalis Utama bersertifikat Dewan Pers/AJI Indonesia. Menulis cerita yang layak untuk diceritakan.

Tentang Penulis →

Pilihan Redaksi

← Kembali ke Beranda