Ia lahir di Malang, tumbuh dalam keluarga birokrasi, pernah kalah dalam pertarungan politik, menempuh jalan melalui dunia usaha dan parlemen, lalu dua kali dipercaya memimpin Tomohon.

Ada banyak cara untuk mengenal seorang pemimpin.

Namanya bisa dibaca dari baliho. Wajahnya bisa dilihat dari foto-foto kegiatan pemerintahan. Riwayat jabatannya bisa disusun dalam beberapa baris curriculum vitae.

Tetapi ada cara lain yang mungkin lebih menarik: melihat perjalanan hidupnya sebelum ia sampai di kursi kekuasaan.

Caroll Joram Azarias Senduk adalah salah satu nama yang perjalanan hidupnya bersinggungan dengan beberapa ruang sekaligus—keluarga, pendidikan, dunia usaha, politik, pelayanan gereja, dan pemerintahan.

Kini, namanya melekat dengan Balai Kota Tomohon.

Namun perjalanan menuju ke sana tidak berlangsung dalam satu langkah.

Lahir di Malang, Tumbuh di Bitung

Caroll lahir di Malang, 20 Januari 1969.

Ia merupakan putra Karel Lasut Senduk, tokoh pemerintahan yang pernah menjabat Wali Kota Administratif Bitung dan kemudian Bupati Minahasa. Dengan latar keluarga seperti itu, dunia pemerintahan bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi Caroll sejak kecil.

Masa sekolahnya banyak dihabiskan di Bitung.

Ia bersekolah di SD Katolik II Don Bosco Bitung pada 1976–1982, kemudian melanjutkan ke SMP Katolik Don Bosco Bitung hingga 1985. Setelah itu, ia bersekolah di SMA Negeri 1 Manado dan lulus pada 1988.

Dari Manado, langkah berikutnya membawanya ke Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi.

Ia menempuh pendidikan S1 pada 1988–1995 dan memperoleh gelar Sarjana Hukum.

Riwayat pendidikan itu kelak menemukan persinggungannya dengan perjalanan politik dan pemerintahan yang dijalaninya.

Sebelum Politik, Ada Dunia Usaha

Jalan menuju politik ternyata tidak langsung terbuka bagi Caroll.

Pada 2010, ia pernah mencalonkan diri dalam Pemilihan Wali Kota Tomohon. Namun percobaan pertamanya itu belum membawanya ke Balai Kota.

Ia kemudian menjalani fase yang berbeda.

Caroll masuk lebih jauh ke dunia usaha dan dipercaya menjadi Direktur PT Guna Alam Sulawesi pada 2011 hingga 2018. Dunia usaha memberinya pengalaman dalam mengelola organisasi dan mengambil keputusan di luar ruang politik.

Beberapa tahun kemudian, ia kembali memasuki arena politik melalui lembaga legislatif.

Pada Pemilu 2014, Caroll terpilih sebagai anggota DPRD Kota Tomohon. Ia kemudian dipercaya menjadi salah satu pimpinan DPRD, sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Tomohon periode 2014–2019. Catatan pemerintahan dan pemberitaan pada masa itu juga menunjukkan posisinya sebagai salah satu pimpinan lembaga legislatif kota.

Ia kembali menjadi Wakil Ketua DPRD pada periode berikutnya, 2019–2020.

Parlemen menjadi ruang baru dalam perjalanan politiknya.

Di sana, ia tidak lagi berada di luar pemerintahan sebagai pengusaha atau calon kepala daerah, tetapi menjadi bagian dari lembaga yang menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Gereja dan Kehidupan Keluarga

Di luar politik dan pemerintahan, ada bagian lain dari kehidupan Caroll yang cukup panjang: pelayanan gereja.

Profil resmi Pemerintah Kota Tomohon mencatat sejumlah posisi pelayanan yang pernah dijalaninya di GMIM Kakaskasen PNIEL, antara lain sebagai syamas, Ketua Pria/Kaum Bapa jemaat, Wakil Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat, serta sejumlah posisi pelayanan pada tingkat wilayah dan rayon.

Bagi Caroll, ruang pelayanan tersebut berjalan beriringan dengan kehidupan keluarga.

Ia menikah dengan drg. Jean D’Arc Florentia Karundeng. Mereka memiliki tujuh anak dan berdomisili di Kelurahan Kakaskasen Dua, Kecamatan Tomohon Utara, sebagaimana tercatat dalam profil resmi Pemerintah Kota Tomohon.

Keluarga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya—di tengah aktivitas politik, pemerintahan, usaha, dan pelayanan yang terus berjalan.

Dari Wakil Rakyat ke Balai Kota

Setelah berada di DPRD, langkah berikutnya adalah kembali ke gelanggang eksekutif.

Pada Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tomohon 2020, Caroll berpasangan dengan Wenny Lumentut.

Komisi Pemilihan Umum menetapkan pasangan Caroll Joram Azarias Senduk–Wenny Lumentut sebagai pasangan terpilih dengan perolehan 43.611 suara.

Pelantikan pada 2021 menandai babak baru dalam perjalanan Caroll.

Dari dunia usaha ia pernah berada di belakang meja pengelolaan perusahaan. Dari DPRD ia mengenal mekanisme legislatif. Kini ia harus berhadapan langsung dengan kompleksitas pemerintahan kota.

Jabatan wali kota membawa jenis tanggung jawab yang berbeda.

Keputusan tidak lagi berhenti pada ruang rapat atau dokumen kebijakan. Ia bersentuhan dengan jalan, pasar, sekolah, rumah sakit, pelayanan administrasi, petani, pedagang, dunia usaha, dan kehidupan sehari-hari warga.

Lima Tahun Pertama

Periode pertama Caroll sebagai wali kota berlangsung bersama Wenny Lumentut.

Namun perjalanan pasangan tersebut tidak berakhir sebagai satu kesatuan politik.

Wenny kemudian mengundurkan diri dari jabatan wakil wali kota dan pada Pilkada 2024 maju sebagai salah satu pesaing Caroll.

Politik lokal pun mempertemukan kembali dua orang yang sebelumnya berada dalam satu pasangan.

Dalam kontestasi 2024, Caroll maju bersama Sendy G. A. Rumajar.

Kali ini, Caroll menghadapi nama-nama yang bukan orang asing dalam perjalanan politik Tomohon. Salah satunya adalah Wenny Lumentut. Ada pula Miky Junita Linda Wenur, mantan Ketua DPRD Kota Tomohon ketika Caroll pernah menjadi Wakil Ketua DPRD.

Hasil pemilihan kembali membawa Caroll ke Balai Kota.

Ia menjalani periode kedua sebagai Wali Kota Tomohon untuk masa jabatan 2025–2030. Profil resmi Pemerintah Kota Tomohon mencatat jabatan tersebut sebagai kelanjutan dari periode pertamanya pada 2021–2025.

Memasuki Periode Kedua

Periode kedua membawa Caroll ke fase yang berbeda.

Ia bukan lagi kepala daerah yang baru mengenal ruang birokrasi. Ia datang dengan pengalaman satu periode pemerintahan, pengalaman sebagai legislator, dan pengalaman panjang di luar pemerintahan.

Pada 2026, aktivitasnya sebagai wali kota masih mencakup berbagai urusan pemerintahan dan pelayanan publik.

Pada Mei 2026, misalnya, Caroll menghadiri rapat koordinasi optimalisasi kerja sama KPK dengan pemerintah daerah di Sulawesi Utara. Dalam kegiatan tersebut, ia bersama Kepala ATR/BPN Kota Tomohon menandatangani komitmen bersama terkait pencegahan korupsi dan penguatan ekonomi daerah melalui transformasi pelayanan publik di bidang pertanahan dan tata ruang.

Beberapa bulan kemudian, pada Juni 2026, ia mengikuti proses penilaian dan verifikasi Apresiasi Rumah DataKu yang melibatkan Kelurahan Pangolombian sebagai wakil Kota Tomohon dan Provinsi Sulawesi Utara.

Agenda-agenda seperti itu mungkin terlihat sebagai rutinitas pemerintahan.

Tetapi justru dari rutinitas itulah seorang kepala daerah menjalankan sebagian besar pekerjaannya: menghadiri rapat, menandatangani dokumen, berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi, menemui masyarakat, serta memastikan kebijakan bergerak dari meja birokrasi menuju lapangan.

Di Balik Jabatan

Caroll Senduk kini berada pada titik yang mungkin tidak pernah sepenuhnya bisa diprediksi ketika ia pertama kali mencoba maju dalam Pilkada Tomohon pada 2010.

Ada kekalahan di awal.

Ada dunia usaha.

Ada parlemen.

Ada pelayanan gereja.

Ada keluarga.

Kemudian ada Balai Kota.

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa karier politik seseorang jarang berbentuk garis lurus.

Ada masa ketika seseorang berada di luar pemerintahan. Ada saat ketika ia menjadi bagian dari lembaga legislatif. Ada pula masa ketika ia harus mengambil keputusan sebagai kepala daerah.

Caroll menjalani semuanya dalam rentang waktu lebih dari satu dekade.

Hari ini, namanya tidak hanya tercatat dalam daftar pejabat Kota Tomohon. Ia juga menjadi bagian dari sejarah politik kota itu—sebagai salah satu figur yang dua kali memenangkan pemilihan wali kota dan kemudian kembali memimpin Tomohon untuk periode 2025–2030.

Namun jabatan, pada akhirnya, hanyalah salah satu bagian dari cerita seseorang.

Di belakang nama Caroll Joram Azarias Senduk, S.H., ada seorang anak dari keluarga birokrasi yang tumbuh di Bitung, seorang sarjana hukum, pengusaha, legislator, pelayan gereja, suami, ayah tujuh anak, dan kemudian kepala daerah.

Dari semua peran itu, mungkin justru perjalanan panjang menuju kursi wali kota yang paling menarik untuk dicatat.

Sebab seorang sosok tidak hanya dibentuk oleh ketika ia menang.

Ia juga dibentuk oleh jalan panjang sebelum kemenangan itu datang.


Baca juga di DORANG

Tulisan ini juga diterbitkan di blog utama DORANG. Untuk membaca versi lengkap beserta pembaruan terkait, kunjungi:

Caroll Senduk: Wali Kota Tomohon →